Ibu Kota Masa Depan

Jakarta, Jaya Raya !
Suatu kota yang katanya sih tempat memperbaiki hidup dengan segala aktifitas dan berbagai golongan manusia didalamnya mulai dari kelas bawah, menengah dan atas. Selaras dengan waktu yang terus aja berkembang tanpa henti, kota ini lebih pesat perkembangannya dalam pencekikan udara dan penyempitan lahan karena dipenuhi bangunan-bangunan yang tak tertata. Akhirnya kita semua menunggu sampai tiba waktunya manusia saling berdesak-desakan dalam melakukan semua aktifitasnya termasuk menghirup udara segar. Karena dikota ini sepertinya warna hijau sudah sangat langka atau sengaja dihapuskan untuk digantikan oleh mengkilaunya gedung-gedung kaca pencakar langit dan mengoleksi album “efek rumah kaca” dalam kehidupan yang sebenarnya.

Efek rumah kaca adalah suatu proses dimana radiasi termal dari permukaan atmosfer yang diserap oleh gas rumah kaca, dan dipancarkan kembali ke segala arah. Mekanisme ini pada dasarnya berbeda dari yang rumah kaca sebenarnya, yang bekerja dengan mengisolasi udara hangat dalam struktur tersebut sehingga panas yang tidak hilang oleh konveksi. Efek rumah kaca ditemukan oleh Joseph Fourier pada tahun 1824, dan pertama kali dilaporkan kuantitatif oleh Svante Arrhenius pada tahun 1896, merupakan proses pemanasan permukaan suatu benda langit (terutama planet atau satelit) yang disebabkan oleh komposisi dan keadaan atmosfernya. Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba di permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, sulfur dioksida dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya “panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi.”

Sialnya, terbesit di otak gue kayanya neraka sekarang sistemnya bukan lagi menunggu, tapi manjemput. Dan beberapa tahun sebelumnya lo gaperlu lagi minyak bumi dan gas alam, karena lo tinggal bawa alat dan bahan masak aja ditaro diatas aspal terus masak deh makan dijalanan. *maafguemenghayal.

Gue berharap kota kelahiran gue ini semuanya bisa semakin baik kedepannya bukan kaya apa yang ada dipikiran gue sekarang, karena gimana pun bentuknya dan seberapa banyakpun manusia sampah didalamnya, gue tetep cinta kota ini. I love you Jakarta.

-P.878